8/07/2011

candumu-agamaku

Ada tuduhan bahwa rakyat Islam adalah sumber kebobrokan bangsa ini. Maklum saja, mayoritas bangsa Indonesia menganut ajaran Muhammad Saw., sehingga tak aneh jika keburukan bangsa ini dialamatkan kepada risalah yang dibawakan teladan agung kita itu. Sebab memang sudah dari dulu ajaran Muhammad selalu ditentang oleh musuh-musuhnya. Gue juga bisa menuduh bahwa Pancasila itu sumber KKN karena dengan ideologi Pancasila-lah sistem yang korup, kolusi dan nepotis ini dibangun. Tetapi apakah pemikiran itu selalu sejalan dengan tindakan seseorang? Konon selalu saja ada kesenjangan antara pikiran dan tindakan—split personality complex. Sumber kejahatan tidak mesti harus dicari pada pikirannya, tetapi mungkin pada upaya praksisnya yang keliru. Kalau seorang muslim merampok dan membunuh seorang muslim toh pengadilan tidak pernah mempersoalkan ke-Islam-an mereka bukan?

Menghadapi sebuah tuduhan, refleks yang kita lakukan adalah membela diri—apologetik biasa, maklumlah. Islam itu kan aturan Allah Azza wa Jalla, diturunkan untuk segenap manusia, kok malah dituding sumber kebejatan moral. Sampai-sampai "si mbah jenggot" turunan Yahudi yang kebetulan oleh bapaknya diberi nama Karl Marx mengecap agama sebagai candu. Apa sih candu itu?! Candu itu narkotik, obat yang dalam takaran tertentu berguna untuk mematikan rasa sakit, tetapi penyalahgunaannya justru dapat menciptakan kenikmatan yang menjajah. Nah, si Yahudi Marx itu menganggap agama sering dipakai (tentunya oleh mereka yang ahli atau minimalnya tahu tentang agama, karena pecandu obat bius pun tahu jenis, merek dan "khasiat" barang haram yang dipakainya) untuk melenakan penganutnya dari persoalan-persoalan duniawi. Orang melarat diminta untuk sabar dan tawakal menyaksikan si kaya asyik menghambur-hamburkan fulus untuk ke mekah, hilir-mudik dengan Baby Benz atau berebutan kursi Parlemen mengatasnamakan ideologi dan demokrasi. Orang melarat itu lebih dekat dengan surga ketimbang si kaya. Maka si melarat tidak pernah mempertanyakan kenapa hidupnya kembang kempis sedang tetangganya buncit perutnya karena kebanyakan korupsi sama makan di McD’. Orang yang mengajarkan agama malah menghiburnya bahwa kaya-miskin itu takdir Tuhan, dan mana mungkin orang kaya semua atau miskin semua. Lagian juga kalo semua ke McD’ siapa yang ke warteg?!

Jadi benar bahwa agama (Islam) itu candu?! Nah, kita akan berapologi lagi bahwa Islam itu bukan candu. Agama justru sangat ‘care’ dengan persoalan kemiskinan. Ali bin Abi Thalib pernah bilang bahwa "andaikan kemiskinan itu berwujud manusia tentu akan aku bunuh", karena kata Nabi "kefakiran itu mendekatkan seseorang pada kekafiran". Dus kemiskinan harus dilenyapkan, minimalnya diminimalkan, bukan dibiarkan, apalagi dilkonservasi. Karena itu si kaya diwajibkan menyisihkan sebagian kekayaannya untuk dibagikan kepada si miskin melalui mekanisme infak dan zakat. Lalu apakah jika si kaya sudah bersedia menyumbang untuk si miskin, agama berhenti menyerukan kebajikan? Fenomena yang terjadi justru sering terasa menggelitik, malah menyesakkan dada. Jika si melarat tahu bahwa sedekah dan zakat orang-orang kaya (untuk konteks Indonesia modern misalnya kucuran modal konglomerat buat pengusaha kecil atau bagi-bagi sembako gratis oleh kalangan bermodal gede) dipakai buat "menghapus dosa-dosa" sambil menimbun dosa-dosa baru. Kemitraan bukannya membesarkan si kecil tetapi memperbesar kue konglomerat dan mengekalkan tata hubungan yang selama ini memang sudah timpang. Program bagi-bagi sembako dijadikan ladang bisnis baru. Nggak ada salahnya sih beramal sambil berbisnis. Masalahnya apakah dengan beramal tersebut persoalan kemiskinan bisa teratasi. ‘Jangan-jangan malah terlestarikan’.

Maka dari itu agama tidak boleh berhenti bertugas! Agar para ulama tidak kelelahan berdakwah dan berdakwah, menghabiskan banyak dana dan energi, ada baiknya persoalan kemiskinan disorot secara struktural (oleh ulama). Kenapa seseorang bisa miskin, apakah memang sudah takdirnya dilahirkan dalam keadaan fakir miskin, lalu kenapa orang tuanya miskin, kakek neneknya miskin dan mbah buyutnya juga menderita kemiskinan. Mungkin daerahnya kering kerontang? Timbul pertanyaan kenapa daerah tersebut tidak terjamah pembangunan, wong Jepang yang miskin sumber daya alam saja bisa menjadi macan industri. Karena yang harus diprioritaskan adalah kota-kota di mana industri menjamur, dan orang desa yang miskin silakan urbanisasi atau ber-transmigrasi. Yang tidak mau ikut urbanisasi atau transmigrasi, ya terpaksa bergulat dengan kemiskinan hingga tujuh turunan. Warga desa yang miskin ini terpaksa menjadi buruh tani dengan upah minimum demi menggelembungkan perut si petani kaya atau tuan tanah. Sedang mereka yang memilih ke kota menjadi buruh pabrik hidup serba kekurangan karena upah minimum regional atau upah minimum kota yang ditetapkan penguasa memang kecil (kan agar investasi asing mengalir lancar). Jika si buruh menuntut kenaikan upah, pemilik pabrik biasanya kucing-kucingan. Kalau buruhnya nekad dan bikin demo, pemilik pabrik pun dengan sigap panggil satu peleton BRIMOB plus Preman yang biasanya mengutip uang keamanan. Kalau nekad lagi ya di-Marsinah-kan. Atau dituduh komunis dan anarkhis, selesai acara.

Kalau ulama terus-menerus sibuk mencari dalil kenapa orang bisa miskin, ya persoalan tidak selesai-selesai, karena persoalannya lebih kepada masalah sistem. Nah, di tengah deras tuntutan keadilan sosial, sebagian ulama yang bijak ini malah sibuk bergulat dalam isu elit, merapat sana-sini. Atau sibuk mempersoalkan khilafiyah dan terus mesra ber-assobiyah. Dalam suasana kemalangan seperti sekarang memang paling menyenangkan hiburan-hiburan politis seputar mitos-mitos sejarah buatan rezim, membesar-besarkan bahaya serangan teroris atau menjual gagasan terorisme-nya Zionis. ‘Jadi benar nih agama berfungsi sebagai candu?’ Salah siapa yang menciptakan kesan agama adalah candu: salah Marx si komentator? Salah elit partai? Salah Ulama? Salah ummat? Atau salah agamanya? (Atau salah penulis artikel ini? -red)

Agama memang bukan candu, tapi oleh para penganutnya (dan oleh para pakar agama atau bahasa Arabnya ulama) sering dibuat seperti candu. Terutama jika pemerintah (atau bahasa Arabnya umaro) meminta ulama memberi ‘candu’ untuk menenangkan ummatnya yang lagi emosi, agar lupa persoalan sesungguhnya. Ulama dan umaro kan harus bekerja sama, karena politik dan kekuasaan juga wilayah ajaran Islam. Kalau umaro punya program-program pembangunan, ulama harus ikut memberikan fatwa (legitimasi agama). Kalau umaro bilang ada bahaya laten komunis, ulama harus menggalang apel akbar mewanti-wanti bahaya ateisme dan kekejaman PKI. Kalau POLRI seenaknya menangkapi para pejuang kemanusiaan (seperti Ustadz Ba’asyir cs) atas intervensi Amerika bin Zionis Yahudi, ulama harus mengatakan dengan lantang bahwa POLRI adalah gundiknya imperialis kafir. Ulama dan umaro harus harmonis demi kemaslahatan ummat. “Demi mencandui ummat dan pemiskinan ummat atau demi tugas pembebasan dari sistem Jahiliyah?!”. Atau salahkan kaum Marxis yang mengadvokasi buruh karena dicurangi oleh pemilik pabrik. Atau juru dakwah Kristen yang memanfaatkan kemiskinan ummat demi ajaran kasih Yesus. Jika benar, mari kita musuhi Komunisme dan Kristen. Lupakan masalah perut atau UU Ketenagakerjaan. Agama bukan masalah perut atau upah buruh coy...

Padahal agama itu diturunkan untuk manusia yang punya perut dan mungkin keterpaksaan nasib menjadikannya seorang buruh. Agama tidak terus mengatur bacaan doa masuk WC, wirid sesudah sholat atau besarnya nasab untuk zakat ternak unta (siapa yang punya seribu ekor unta di negeri ini?). Agama harus mampu mensejahterakan ummatnya yang “kebetulan” menjadi buruh pabrik, petani kecil, pedagang kaki lima atau penghuni kawasan kumuh, jika slogan "agama itu sistem yang komplit: mengatur urusan dunia dan akhirat" itu benar. Makna agama tidak terletak pada kesahihan hukum-hukum (fiqih), tetapi pada kemampuan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan untuk orang Islam saja, bukan untuk mereka yang kebetulan tidak jadi buruh pabrik, petani kecil, pedagang kaki lima atau penghuni kawasan kumuh saja. Justru pengikut Muhammad dulu rata-rata wong cilik: budak belian, orang miskin dan perempuan-perempuan lemah, sedikit sekali orang kaya yang tertarik. Orang kaya malah memusuhi Muhammad karena ajarannya mengancam status quo yang selama ini mereka nikmati: jual beli budak demi kelangsungan perdagangan di kota Mekkah, demi eksploitasi si miskin atau menghalalkan korupsi untuk memperkaya diri.

Dalam era reformasi yang lagi penuh euforia kebebasan ini, agama sebaiknya dikembalikan kepada fungsi transformasi sosial sebagaimana pernah diteladankan oleh Pemimpin Revolusi Islam, Rasulullah Saw. Bukan dijadikan komoditas politik. Atau dijadikan senjata pamungkas untuk mengkomuniskan dan mensekulerkan (juga memasukkan ke dalam api neraka) mereka yang berseberangan platform organisasi-nya. Agama adalah semangat perubahan zaman yang menghendaki tatanan egaliter di mana yang kaya dan yang miskin lebur dalam kesatuan masyarakat Islam. Jika si kaya menolak menyerahkan sebagian hartanya untuk menyumbang secara ikhlas (tanpa pamrih apapun), agama harus mengutuknya sebagai "pengumpul dan penghitung-hitung harta", bakal calon penghuni neraka hutomah. Agama harus menentang penindasan oleh orang-orang kuat yang kebetulan memegang tampuk kekuasaan atau mengendalikan jalannya perekonomian. Meskipun kebetulan mereka menganut Islam sebagai isian kolom KTP-nya dan mulutnya penuh buih ayat-ayat suci selama berpolitik. Agama bukan ajaran langit yang begitu sakralnya, tetapi untuk manusia penghuni bumi yang bergulat dengan persoalan-persoalan duniawi. Agama berbicara tentang moralitas demi memuliakan derajat manusia, bukan moralitas yang mengekalkan eksploitasi sistematik !!!

Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayati ‘l-Mus’tadz’afin

selengkapnya...

5/11/2011

BERSATULAH, BERSATULAH, BERSATULAH

Bismillahirohmanirohiim

Wahai Kaum Muslim sedunia, khususnya saudara-saudara Kaum Muslim di Indonesia! Sekali lagi saya harapkan bersatulah untuk mencapai ridho Alloh demi keselamatan bersama!

Ingatlah pesan Rosululloh SAW pada khutbah terakhir di Arafah, Beliau berseru bahwa; “Setiap Kaum Muslim bersaudara dengan Muslim lainnya. Ia bagaikan unsur bangunan yang saling menguatkan, berkewajiban menghormati darah dan kehormatan hak-hak azasi sesama Kaum Muslim!"

Cobalah usahakan dengan penuh kesadaran yang ikhlas wahai Kaum Muslim, hidupkan rasa persaudaraan demi ukhuwah Islam yang kita harapkan. BERSATULAH, BERSATULAH, BERSATULAH kaljasadil wahid! Bersatu disini sekarang ini, mari kita panjatkan doa bersama sampai Alloh memperkenankan harapan kita bersama!!!



[KAKAH, 7 Rabi’ Al-Awwal 1432 H]

--------------------------------
...sejak usia 20 tahunan ia telah meninggalkan dunia ramai, usia yang cukup muda pada zamannya. 46 tahun lebih ia berpuasa, dalam setahun hanya di hari tasyrik saja ia tak berpuasa. Selain sholat 5 waktu yang wajib, tiap hari ia melakukan seluruh sholat sunnah, sunnah-sunnah nawafil, tanpa kealpaan...begitulah Kakah dalam kesendiriannya bermunajat mengejar CintaNya...kini usianya telah mencapai 70 tahun...tak ada keinginan insaniyah kecuali terus riyadhoh, bermunajat menanti jawaban yang dijanjikanNya...

Kakah, begitulah ku sapa dirinya...

selengkapnya...

4/12/2011

Bukan Tak Benar!

Bukan tak benar!

Tapi belum tentu benar,
jika ilmu bersifat teori,
baik ilmu pengetahuan umum,
maupun pengetahuan agama.Jikalau ilmu-ilmu tersebut tak nyambung dengan pelaksanaannya!
 

Maka dari itu, amalkan ilmu tersebut dengan penuh konsuekwensinya!
Kulli syaiin halikun ila ilmun,
Kuli ilmun halikun ila amalun,
Kuli amalun halikun ila muchlisun!

Cendikiawan yang tak bijak tak akan berlaku bajik.
Kebajikan berlandaskan akhlakul karimah.



:: Kakah/9 Muharam 1432 H

-------------------------

...sejak usia 20 tahunan ia telah meninggalkan dunia ramai, usia yang cukup muda pada zamannya. 46 tahun lebih ia berpuasa, dalam setahun hanya di hari tasyrik saja ia tak berpuasa. Selain sholat 5 waktu yang wajib, tiap hari ia melakukan seluruh sholat sunnah, sunnah-sunnah nawafil, tanpa kealpaan...begitulah Kakah dalam kesendiriannya bermunajat mengejar CintaNya...kini usianya telah mencapai 70 tahun...tak ada keinginan insaniyah kecuali terus riyadhoh, bermunajat menanti jawaban yang dijanjikanNya...

Kakah, begitulah ku sapa dirinya...

selengkapnya...

MARI KITA KIBARKAN DINUL ISLAM


Mari sebarkan semangat iman demi tegaknya kebenaran.
Allohu Akbar beri kami kekuatan.
Wahai saudara seagama, lekadkan pinggang, busungkan dada!


Derapkan langkah seirama, demi perjuangan mulia.
Teguh dan bulatkan keyakinan.
Rela dan siap berkorban menghadapi aral rintangan.


MARI TEGAKKAN DINUL ISLAM !!!



[Kakah, 17 Muharam 1432 H]

-------------------

...sejak usia 20 tahunan ia telah meninggalkan dunia ramai, usia yang cukup muda pada zamannya. 46 tahun lebih ia berpuasa, dalam setahun hanya di hari tasyrik saja ia tak berpuasa. Selain sholat 5 waktu yang wajib, tiap hari ia melakukan seluruh sholat sunnah, sunnah-sunnah nawafil, tanpa kealpaan...begitulah Kakah dalam kesendiriannya bermunajat mengejar CintaNya...kini usianya telah mencapai 70 tahun...tak ada keinginan insaniyah kecuali terus riyadhoh, bermunajat menanti jawaban yang dijanjikanNya...

Kakah, begitulah ku sapa dirinya...

selengkapnya...

WAHAI KAUM MUSLIM !

Waspadalah terhadap musibah yang sedang menimpa kita bersama;
diantaranya dikarenakan para penguasa negeri kaum muslimin yang tidak bertakwa kepada Alloh dan tidak memelihara urusan negeri dan rakyatnya secara amanah!

Pula dikarenakan sikap umat yang diam terhadap para penguasa zalim dan tidak memperhatikan rakyat! 


BERSATULAH WAHAI KAUM MUSLIM DEMI AGAMA ISLAM, AGAMA ALLOH YANG HAQ YANG HARUS KITA BELA!


Ingat kekuatan umat Islam adalah wahdatul umah dan tawhid billah!

[KAKAH, 19 Syafar 1432 H]

--------------------------------

...sejak usia 20 tahunan ia telah meninggalkan dunia ramai, usia yang cukup muda pada zamannya. 46 tahun lebih ia berpuasa, dalam setahun hanya di hari tasyrik saja ia tak berpuasa. Selain sholat 5 waktu yang wajib, tiap hari ia melakukan seluruh sholat sunnah, sunnah-sunnah nawafil, tanpa kealpaan...begitulah Kakah dalam kesendiriannya bermunajat mengejar CintaNya...kini usianya telah mencapai 70 tahun...tak ada keinginan insaniyah kecuali terus riyadhoh, bermunajat menanti jawaban yang dijanjikanNya...

Kakah, begitulah ku sapa dirinya...

selengkapnya...

3/19/2011

Tugas Mendesak


“(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. (Q.S. Ibrahim: 52)

SEBUAH PARADOKS
Suatu adegan yang menjadi rutinitas sejarah: pemujaan manusia terhadap berhala dan pembajakan kemanusiaan. Merupakan konfrontasi awal pada masyarakat disaat berhala-berhala ini menjelma pada setiap pribadi menjadi; nafsu-syahwat, bintang jasa, jabatan, gelar sarjana, harta kekayaan, ambisi buta, mental oportunis, dan watak hedonistis. Dalam pemujaannya terhadap berhala mengalami pertarungan yang menuntut; KEMENANGAN! Manakala kekuatan berhala lebih besar menguasainya, lebih dicintainya, dipujanya, mereka akan bersujud, takluk dalam penghambaannya terhadap berhala, benar-salah bukan menjadi standar nilai atau norma, sehingga naluri-naluri hewani dalam dirinya beraksi—praktis segala jalan dilaluinya dan penentangan terhadap dirinya adalah lawan yang patut disingkirkan.

“Laa Ilaaha iIlaallaah” merupakan kontrak sosial manusia dengan Dzat Yang Maha Esa adalah Tawhid, yakni manifestasi yang tidak mengakui adanya tuhan selain Alloh ‘Azza wa Jalla. Adapun “Laa” dan “iIlaa” atau antara pengingkaran dan penegasan terletaklah inti dasar Aqidah Islam. “Laa” adalah pengingkaran terhadap ketuhanan apapun. Baik yang kita cintai-sayangi seperti: harta benda, kedudukan, pangkat, kekuasaan, kemewahan maupun wanita yang cantik-molek dan sanak-keluarga. Pada semua itu kita katakan TIDAK! Umumnya manusia menyembah dirinya sendiri, menyembah hawa nafsu dan ketenarannya, menyembah akal dan fikirannya. Ia menganggap dirinya berkuasa atas sesama manusia, pada nafsu yang demikian ini, kita nyatakan TIDAK! Kepada rezim penguasa dan kepada siapa pun kita nyatakan TIDAK! Kita takkan menyembahmu! Adapun “Ilaah” berarti Tuhan adalah Subyek. Selain Dia, hanyalah sarana-sarana belaka, baik presiden, menteri, jenderal, anggota dewan, pemilik pabrik atau siapa saja, maupun harta benda, kedudukan, kekuasaan, nafsu, akal dengan segala bakat dan kecerdasannya yang luar biasa sekalipun. Kepada semua itu, kita nyatakan TIDAK! Kita takkan menyembah mereka! Mereka bukan Tuhan! Kecuali (illaa) satu. Satu itulah yang bagi-Nya kita kukuhkan kesubyekan itu. Yaitu Alloh ‘Azza wa Jalla. Penguasa Tunggal. Pemilik alam raya dan jagad mayapada.

Perseteruan hujjah berlangsung hingga terkobarkan perang antara Tawhid melawan Syirik; Tawhid melawan penguasa tiran; terapresiasi melalui tampilnya Nabi Ibrahim as yang menentang penguasa paganis Namrud, Musa as yang menentang tirani-fascism Fir’aun, Isa as yang menentang imperialis Romawi dan Muhammad Saw yang menentang dominasi berjouis-kapitalis Musyrikin Makkah. Kesemua mereka, para Nabi agung ini adalah para penolak penghambaan atau pemujaan terhadap berhala-berhala, dan mereka berjuang untuk merombak tatanan masyarakatnya yang menyimpang dari kehendak Sang Pencipta yang menghendaki terbentuknya masyarakat ideal yang berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, sebuah masyarakat Tawhid, masyarakat yang menjadikan Alloh Sang Pencipta sebagai sumber segala kehidupan, menyemai persamaan dan persaudaraan dan menegakkan keadilan, kedamaian serta kemakmuran. Penentangan dan perjuangan mereka telah menyulut peperangan demi penentangan yang menjadi konsekuensi logis sebuah penolakkan mutlak terhadap berhala-berhala.

Keharmonisan berinteraksi dengan Tawhid sebagai ruh kehidupan bermasyarakat, merupakan tolok ukur dan dasar kecenderungan manusia mengakui eksistensi (keberadaan) Alloh ‘Azza wa Jalla. Daya nalar, pola pemikiran, daya inovasi, daya kreasi dan berbagai idea serta konsep hanya akan mewujudkan kearogansian dan angkaramurka, jika tidak ada muatan Tawhid di dalamnya.

MAZHAB GENERASI PERTAMA: REVOLUSI!

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berpaling ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Alloh sedikitpun; dan Alloh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali ‘Imran: 144)

Misi ini menolak Plato dan para filusuf spritual lainnya yang mencabut hak sosial para pekerja hanya karena pekerjaannya yang hina dengan membagi masyarakat kedalam kelas-kelas sosial. Misi ini pun menentang Marxisme-Komunisme yang dengan gegap gempitanya mengelukan ‘pembebasan’, tetapi seiring dengan itu telah mencampakkan kemanusiaan dengan menisbatkan manusia sebagai ‘benda’ atau seonggok daging yang kehilangan hak asali. ‘Logika Marx’ telah menjustifikasi (memvonis) manusia menjadi ‘alat-alat produksi’ dari sebuah ‘dialektika-materialisme’, dimana hak-hak substansial manusia direnggut bagi kepentingan mesin raksasa, diktator-proletariat. Adalah bohong belaka dan telah gagal dalam sejarah! Keadilan pada masyarakat Marxisme, pembebasan hak-hak manusia pada ajaran Komunisme, dan serangan gencarnya kepada agama hakikatnya merupakan propaganda dan intrik-politik dari seorang Marx terhadap kaum geraja, rahib-rahib dan borjuasi-kapitalisme ketika itu. Adapun dalam prakteknya, ajaran Marxis-Komunisme begitu jauh kepada apa yang telah digembar-gemborkannya. Cuba, Uni Sovyet, RRC atau di Indonesia sekalipun merupakan kenihilan atau kebohongan! Provokasi dialektika-nya Hegel yang menjelmakan ‘Tuhan sebagai produk sejarah’ menjadi senjata ampuh Marx guna merajam kaum borjuasi-gereja dikalangan kaum proletar dengan jargon nya “agama adalah candu masyarakat”. Berbanding terbalik dengan realita, cuma propaganda muluk belaka. Komunisme adalah satu bentuk penindasan baru. Penindasan baru yang diproduksi dari mesin-mesin Kapitalis yang frustasi. Penindasan dimana rakyat, masyarakat atau komunitas manusia terkurung-sesak didalam mesin-mesin industri yang dikuasai atas nama ‘kepentingan kolektif’. Kepentingan dimana manusia menjadi ‘binatang ekonomi’.

Sejarah mencatat dengan tinta emas dan mengingatnya dalam kitab samawi yang mutlak suci (Al Qur’an), manakala Nabi, Rosul, dan para pengikutnya menderita siksaan demi menegakkan misi estafeta kenabian. Misi yang menyeru masyarakat manusia untuk ber-Tawhid, yakni satu gugus tugas mengenyahkan pemujaan terhadap berhala-berhala; satu perlawanan terhadap seseorang, atau sekelompok orang yang berkuasa demi perbudakan; satu pemberontakan terhadap sistem yang didalamnya sesak oleh kaum oportunis, koruptor, konglomerat hitam, hukum yang dapat dibeli, kebohongan publik, sikap kapitalistik, diskriminasi gender, kemiskinan moral, kebobrokan mental, privatisasi aset bangsa dan negara, penghisapan pemerintahan pusat terhadap daerah, penjahat kemanusiaan berbintang jasa; satu gerakan penyadaran, keadilan dan pembebasan dari anasir-anasir konservatif yang menindas.

Mereka para Nabi, para Rosul dan pengikutnya tahu benar bahwa keteguhan hati dan kemauan mereka menjadikan dirinya tetap sebagai pelita yang menerangi jalan kehidupan. Dikarenakan mereka tidak meragukan lagi eksistensi Alloh Azza wa Jalla sebagai PENGUASA TUNGGAL di jagad raya ini. Sebelum Isa diangkat sebagai Rosul, Alloh telah menunjuk Musa sebagai pembawa berita kebenaran. Musa tunduk atas segala perintah Alloh, sehingga ia pada zaman-nya melakukan perlawanan terhadap; QARUN, sang kapitalis; BAL’AAM, ulama tersohor yang menyokong status quo; dan FIR’AUN, diktator—penguasa-- yang otoriter. Al Qur’an yang mutlak benar mengisahkan dalam surat Thaha 43-44:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Musa pun menyampaikan ayat-ayat Alloh dengan perkataan lemah lembut, tetapi Fir’aun menolak ajakan itu malahan berusaha menentang dan membunuh Musa. Bahkan Fir’aun berusaha mengumpulkan massa dan ia berorasi: ”…akulah tuhanmu...akulah penguasamu...“ Inilah satu bentuk status quo; satu bentuk pemerintahan dibangun melalui sistem perekonomian yang kapitalistik, yakni sistem penghisapan --sistem ekonomi yang berdiri dengan riba, penguasaan pribadi atas alat-alat produksi; satu kebohongan publik dimana atas nama agama--atas seruan yang keluar dari mulut ulama, rakyat dipaksa menerima situasi penindasan. Situasi dan kondisi di mana kedaulatan rakyat, kebenaran, keadilan, tergenggam ditangan rezim, terkuasai oleh kedigdayaan tiran. Sedang ulama dengan legitimasi ‘ulama’-nya dibentuk sebagai cooler --alat pendingin--, sebagai alat untuk menyimpangkan kebenaran Firman Alloh Azza wa Jalla, dan sebagai alat guna meredam perlawanan terhadap penindasan tirani.

Jauh sebelum Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib diangkat menjadi Nabi, ketika ia masih seorang penggembala domba, seorang yatim-piatu miskin, hidup sehari-harinya terjerembab oleh ekses dominasi kekuasaan terpusat, satu kondisi kemiskinan struktural yang diproduksi oleh elit penguasa, satu kondisi kebodohan yang diciptakan oleh para tiran, satu kenyataan dimana intelektual telah merekayasa diri menjadi mesin-mesin penggilas kemanusiaan. Yang nampak di Jazirah Arab hanyalah kepincangan ekonomi, sosial, politik, budaya. Perbudakan manusia atas manusia; pembunuhan terhadap perempuan dengan dikubur hidup-hidup; sistem kelas berdasarkan strata sosial, darah biru, intelektual akademis, diskriminasi sosial terhadap rakyat mustadh’afin, pemerkosaan hak asasi manusia dengan pembunuhan massal mengatasnamakan suku-bangsa dan eksploitasi kehormatan wanita, penjualan budak belian; kebangkrutan moralitas dan mentalitas dengan dihiasi gaya hidup mewah, kumpul kebo (freesex), pelacuran; perampokan secara konvensional dan moderen sudah mewabah ditengah masyarakat. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mendarah daging dalam budaya masyarakat. Bahkan kebusukan perilaku penguasa dibungkus dengan bintang jasa. Padahal, anugerah dibalik bintang jasa itu luber dengan air mata rakyat jelata, ada darahnya ummat proletar dan penuh dengan nyawa anak negeri tak berdosa.

IQRA’! BACALAH! Apa yang harus dibaca? Dengan apa manusia membaca? Apa tujuan membaca? Bagaimana pula cara membacanya? Kapan dan dimana ruang dan waktu membaca? Pertanyaan demi pertanyaan melingkari dan mengurung manusia dengan berbagai untaian pertanyaan. Jikalau bukanlah karunia Alloh Azza wa Jalla niscaya manusia itu mati dalam lilitan kebingungan.

Iqra’ adalah bentuk perintah. Hukumnya perintah; WAJIB. Jadi setiap manusia wajib Iqra’. Obyek Iqra’ pada penggal ayat pertama surat Al Alaq, surat pertama yang diturunkan Alloh ‘Azza wa Jalla tidaklah jelas, sehingga yang di Iqra’ adalah yang tersurat dan tersirat. Kemudian Alloh ‘Azza wa Jalla memberikan celah pemahaman bahwa membaca segala sesuatu itu harus diawali Bismi Robbik, yaitu dengan Nama Tuhanmu atau dengan ajaran Rabb-mu, dalam artian apabila manusia membaca sesuatu tanpa menggunakan nama Alloh ‘Azza wa Jalla atau tidak dengan ajaran Alloh ‘Azza wa Jalla, maka hasilnya hanyalah ketimpangan dan kehancuran. Mengapa Alloh ‘Azza wa Jalla memerintahkan membaca dengan atas nama-Nya. Tidak dengan nama lain. Dan mengapa Alloh ‘Azza wa Jalla menggunakan ‘Rabb’. Mengapa Dia tidak eksplisit menyebut nama Alloh dengan menyebut Bismillaah. Alloh ‘Azza Wa Jalla mengenalkan diri-Nya Rabb yang mengandung makna fungsi eksistensi. Skala obyek Iqra’ sangatlah luas yaitu membaca ciptaan Alloh ‘Azza wa Jalla berupa segala yang ada di bumi dan di langit. Hal ini diinformasikan Alloh melalui firman-Nya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 20-21). Relevan dengan alur pemikiran yang terkandung dalam wahyu pertama, bahwa obyek Iqra’ lebih difokuskan kepada manusia. Kemudian pada surah Adz-Dzaariyat ayat 21 bahwa dalam diri manusia itu penuh ‘misteri’ yang harus dieksplorasi.

Rabb yang mencipta segala sesuatu itu adalah bahasa tentang ke-Tuhan-an yang sifatnya umum. Arab jahiliyah menyembah berhala la’ata-‘uzza-manaat akan tetapi mereka juga menyebutnya tuhan. Karena masyarakat jahiliyah menganggap bahwa menyembah berhala itu mendapatkan perlindungan, ketenangan, rizki dan lain-lain. Oleh karena itu Alloh ‘Azza wa Jalla secara diplomatis menggunakan kata Rabb yang diakhiri dengan ‘aI-Ladzii Khalaq, yang bermakna yang menciptakan, YANG MAHA PENCIPTA. Mengandung artian bahwa berhala yang dipertuhankan masyarakat jahiliyah itu tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti yang termaktub dalam QS. An-Nahl: 20: ”Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Alloh, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) di buat orang”.

Ayat pertama Surah Al-‘Alaq yang difirmankan Alloh Azza wa Jalla kepada Muhammad melalui perantara Jibril, memberikan pencerahan alam pemikiran manusia akan betapa hinanya manusia sebagai budak nafsu dan bukan sebagai hamba Alloh yang taat. Kata Rabb yang berarti; pencipta (alam), pengatur (hukum), perumus (kebijakan), memelihara, atau mendidik, akan melekat dalam lubuk hati manusia dikala manusia itu mencari dan menapaki risalah dengan satu renungan: Alloh ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan hakiki hidup.

Iqra’, berarti bacalah. Konotasi dan interpretasinya; analisislah, lakukanlah riset, selidikilah, pikirkanlah, pelajarilah dan proklamasikanlah. “Apa yang harus diselidiki? Apa yang harus dipikirkan? Dan apa yang harus diproklamasikan?”

Sasaran Iqra’ adalah IPOLEKSOSBUDHANKAM yang merupakan benteng sistem ketatanegaraan. Suatu negara ini akan makmur gemah ripah loh jinawi, apabila landasan idiilnya mengacu kepada kebenaran mutlak (Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah Saw.). Pemerintah Arab Jahiliyyah sebelum turunnya Al ‘Alaq, kondisi sistem ekonomi, sosial, budaya dan politiknya sangat berantakan, sehingga keutuhan nasional Hijaz terancam disintegrasi. Apalagi ketakutan atas adanya dua adikuasa, Roma dan Persia, cukup mengompori semangat disintegrasi itu. Disintegrasi terjadi karena keadilan tidak berkeadilan. Seluruh kekayaan rakyat di daerah disentralisasikan dan segalanya harus menunggu kebijakan sentral. Daerah hanya mendapat percikan anggaran yang tidak berimbang dengan pendapatan. Dikarenakan mengacu kepada asas ‘keseimbangan’ dan ‘stabilitas nasional’.

Merupakan adegan iman yang indah sekali. Ketika Bilal bin Rabah disiksa majikannya, dia tidak mengaduh kesakitan, tapi apa yang terucap ?…”AHAD !” suatu jawaban mantap yang menggetarkan para penyiksa dan majikannya. Ini menunjukkan bahwa pelindung dirinya hanyalah Alloh Yang Ahad. Dialah yang memiliki asma ‘ul husna, Dialah yang menguasai alam semesta termasuk diri majikannya, Dialah yang mendengar rintihan ummat proletar dalam ketertindasan. Bilal tak gentar menghadapi ancaman maut dari boss yang berlaku kasar dan sadis. Inilah buah Iqra’ yang menghasilkan ma‘rifat kepada Alloh Azza wa Jalla. Dibalik adegan penyiksaan yang tidak memudarkan iman Bilal bin Rabbah itu, hati kecil bossnya terusik. “Gerangan doktrin apakah yang menjadikan Bilal setegar itu? Muatan apa yang disampaikan Muhammad sehingga para pengikutnya memiliki militansi tinggi”. Akan tetapi karena gengsinya para penggede kaum kuffar tidak ingin menyatakan salut dan ikut serta beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya. Jelas dan terbukti, al-‘Alaq ayat pertama menyajikan konsep perubahan sistematis; satu penyembahan mutlak terhadap Alloh Azza wa Jalla, satu penolakan mutlak terhadap berhala-berhala, satu paradigma progresif menentang bentuk-bentuk berhalaisme, dan merupakan satu gerakan revolusioner, yakni gerakan REVOLUSI IDEOLOGI. Gerakan yang terlebih dahulu mengenalkan posisi Alloh sebagai Tuhan secara Implisit, namun mengakar dalam hati sanubari manusia. Alloh mengajarkan teori revolusi ideologi melalui pendekatan sosio kultural untuk membongkar akar masalahnya, yakni IDEOLOGI THAGHUT .

VIRUS-THAGHUT MALAPETAKA HARI INI !

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. An Nisaa’ : 60)

Jika gerakan reformasi yang diharapkan dan didukung seluruh komponen bangsa dalam format NKRI tidak mampu lagi menyelesaikan krisis multidimensional bangsa Indonesia, apakah bangsa ini akan dibiarkan terkatung-katung dalam ketidakpastian tanpa tindakan-tindakan strategis yang akan menyelamatkannya. Apakah gerakan reformasi yang mulai diragukan keampuhannya akan dibiarkan bergerak tidak menentu sehingga bangsa ini menemui kehancurannya. Bahkan jika para pakar, politisi, cendekiawan dan masyarakat luas sudah menganggap reformasi mati muda, apakah kita akan membiarkan rezim penguasa berbuat semaunya tanpa tindakan yang merubah keadaan. Membiarkan rakyat menderita, membiarkan para penjahat dan koruptor berleluasa, membiarkan kehancuran bangsa adalah tindakan pengkhianatan terhadap para pahlawan yang dulu telah mengorbankan nyawa mereka untuk bangsa ini. Bahkan lebih jauhnya lagi adalah tindakan yang telah melanggar amanah Sang Pencipta yang menghendaki tegaknya keadilan, kemakmuran dan keamanan di muka bumi. Kehancuran bangsa ini tidak boleh dibiarkan karena menyelamatkannya adalah tuntutan kemanusiaan sekaligus perintah Alloh ‘Azza wa Jalla.

Apa yang terjadi pada negeri Indonesia berupa kerusakan yang menyeruak ke semua lini dan melingkupi seluruh aspek kehidupan masyarakat dengan menyajikan berbagai bentuk perpecahan dan konflik sepertinya telah menyelimuti jiwa-jiwa rakyatnya dan elite penguasa. Rakyat dikuasai oleh Negara yang hanya berisi ambisi pribadi, kepentingan golongan, dekadensi moral, pola penerapan keputusan yang membingungkan dan kerakusan masing-masing pihak untuk menguasai negeri ini.

Pendidikan mahal, BBM naik, harga kebutuhan pokok semakin melonjak, pengangguran bertambah karena sedikitnya lapangan pekerjaan dan tingkat upah buruh yang rendah. Sementara itu moral dan akhlak generasi mudanya terbelenggu oleh buaian narkoba, freesex dan watak hedonisme. Maka merebaklah kriminalitas, ambisi berkuasa dan kedzoliman. Terlihat jelas pada aspek interaksi sosial dengan adanya kebrutalan didalam tatanan masyarakat yang selalu bergejolak memperebutkan kekuasaan. Pada aspek hukum dengan indikator yang begitu nyata menyudutkan kebenaran pada posisi lemah-tertindas, terlihat lengkap di balik permasalahan ketidakadilan dan ketidak-berdayaan-nya lembaga peradilan dikarenakan akhlaq akademis manusianya mengadopsi hukum kolonial. Begitu pula ambruknya akhlak ummat ketika mengembangkan sains dan teknologi sebagai ambisi ekspansif bangsa dan negara karena dikemas untuk memenuhi kepentingan materialis dan individualis.

Keadaan ini akan terus turun-temurun melahirkan gejala keraguan kepada ketentuan Alloh ‘Azza wa Jalla. Gejala keraguan pada masyarakat dapat teridentitaskan melalui untaian ritus penyembahan berhala. PENYEMBAHAN BARU! BERHALA-BERHALA BARU! Penyembahan dimana aktivis-aktivis difitnah dan dipenjarakan, dikarenakan mereka berda’wah meninggikan Hukum Alloh; penyembahan dimana emosi, jalan pemikiran, cara hidup, patriotisme, nasionalisme, dinilai hanya dengan uang, kedudukan dan bintang jasa; penyembahan dimana kesenangan inderawi dipuaskan oleh sex bebas, narkotik-miras, atau tarian erotis pengugah birahi; penyembahan dimana nilai dan norma luhur bangsa dibarter dengan budaya impor imperialis; penyembahan dimana kedaulatan bangsa terjual demi keserakahan penguasa; penyembahan dimana bangsa Indonesia yang ‘katanya’ berdaulat telah terjajah kembali oleh Amerika bin zionis Yahudi laknatullah.

Jika kita kaji lebih mendasar kesatu titik bagaimana Islam memandang suatu perkara memang begitu jelas. Karena kita akan menemukan akar permasalahan yang terjadi pada ummat ini adalah akibat ideologi yang dianut ummat, Bangsa dan Negara yang menguasainya. Ideologi Ummat Islam Bangsa Indonesia yang kini dianut, bahkan diberhalakan menjadi satu acuan-rujukan berkehidupan merupakan ideologi thaghut. Ideologi yang timbul dari produk pemikiran manusia. Pro kontra, konflik horizontal, fitnah dan berbagai macam kekusutan tatanan pada kondisi ummat yang berideologi thaghut tak dapat dibendung bahkan tidak akan mungkin selesai. Tepatlah kiranya dan merupakan satu sikap revolusioner, disaat jari telunjuk Sayyid Quthb menuding ke arah penguasa Mesir ketika mereka membujuknya supaya mau menerima jabatan pada satu kementrian. Dan ia berkata: “Sesungguhnya jari telunjuk yang teracung mempersaksikan keesaan Alloh di dalam sholat ini, menolak menulis satu huruf pun untuk mengakui hukum thaghut!”. Dan jauh sebelumnya Alloh ‘Azza wa Jalla juga telah memberikan rambu peringatan pedas kepada kita semua dalam firman-Nya: Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”. (QS. Asy Syuura: 30).

Wa ‘l-Lahu A’lamu bi’sh-shawwabi

Billaahi Hayaatunaa walloohu Fii Hayaati ‘l-Must’adz’afiin






--------------------------------------------------
Fascism: Militeristik.
Berjouis-kapitalis: Kelas menengah rakus.
Plato: Filsuf Yunani murid Socrates, guru Aristoteles. Mahaguru Filsafat Barat.
Marxisme-Komunisme: produk pemikiran Karl Marx yang lahir tanggal 5 Mei 1818 di Trier Jerman. Marx merupakan keturunan dan seorang Yahudi. Marx muda, ketika ia masih menjadi seorang Hegelian yang membenci agama Kristen, ia bersama Freud-Ludwig Feuerbach—seorang atheis, menyatakan bahwasanya agama adalah candu masyarakat—candu yang membuat seseorang rela diperas dan ditindas. Serangan dan perlawanan kaum Marxis-Komunis tidak saja tertuju kepada mereka kaum gereja-rahib-bourjuis-kapitalis, tetapi Islam pun dihantamnya secara brutal dan irasional. Sikap formal Marxisme dan Komunisme terhadap Islam antara lain didalam Bolshaya Sovyetskaya Encyclopedia, jilid XVIII, 1953, hal. 616-619: [1] Agama Islam, sebagaimana agama-agama lainnya selalu memainkan peranan yang reaksioner, yang dilakukan oleh kelas-kelas pemeras, sebagai satu senjata untuk menindas secara rohani kaum-kaum yang membanting tulang dan dilakukan oleh penjajah asing untuk memperbudak bangsa-bangsa timur [2] Agama Islam membenarkan ketidakadilan sosial, ekonomi dan sistem pemerasan yang sedang ditegakkan [3] Al Qur’an yang dengan teguh dan tetap mempertahankan perbudakan. Untuk Marxisme-Komunisme, sangat dianjurkan membaca; Muhammad Iqbal, Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1966, hal. 2-3; Dr. Ali Syari’ati, Kritik Islam atas Marxisme, Mizan, Bandung, 1983; Roger Garaudy, Mencari Agama pada Abad XX, Bulan Bintang, Jakarta, 1986.
Thaghut berasal dari pangkal kata thagha-yathghu-thaghwan yang berarti mengingkari atau melampaui batas. Thaghut dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang telah melampaui batas ketentuan Alloh Azza wa Jalla, dalam artian mengingkari dan menandingi apa yang telah diturunkan Alloh S.W.T. dan diajarkan Rasulullah Saw.. Thaghut dapat berarti meng-ilah-kan sesuatu selain Alloh S.W.T. atau pemujaan terhadap berhalaisme. Penjelmaan Thaghut dapat berupa; manusia munafiq-musyrik-kafir, nafsu syahwat, sistem, undang-undang, atau ideologi—pandangan hidup yang bertolak belakan kepada kehendak dan ketentuan Alloh S.W.T..



selengkapnya...

2/15/2011

Rabi'ah Al Adawiyah: Perempuan Pecinta Alloh

"Aku mengabdi kepada Tuhan tidak untuk mendapatkan pahala apa pun. Jangan takut pada neraka, jangan pula mendambakan surga. Aku akan menjadi abdi yang tidak baik jika pengabdianku untuk mendapatkan keuntungan materi. Aku berkewajiban mengabdi-Nya hanya untuk kasih sayang-Nya saja.

Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku."

Ratusan tahun lalu sufi besar, Rabiah Al Adawiyah, mengungkapkan kalimat bijak yang kemudian dikenal sebagai konsep 'Mahabbah'-nya itu. Bukan apa-apa, memang. Bagi Rabiah, ibadah dilakoninya semata kasih sayang Tuhan kepada dirinya. Kasih sayang itu, kata Rabiah, mutiara paling berharga bagi manusia, jika saja manusia itu mengetahui rahasia di baliknya.

Dilahirkan di Basrah, Irak, pada tahun 713 M, Rabiah Basri, atau lebih dikenal dengan nama Rabiah Al Adawiyah, berasal dari keluarga yang hina dina. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil. Begitu pula ketiga kakaknya, meninggal ketika wabah kelaparan melanda kota Basrah. Dalam kesendirian itu, akhirnya Rabiah jatuh ke tangan orang yang kejam, yang lalu menjualnya sebagai budak belian dengan harga tak seberapa. Majikan barunya pun tak kalah bengisnya.

Setelah bebas, Rabiah pergi ke tempat-tempat sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat Basrah. Di sini ia hidup bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, dan sebuah batu bata, adalah harta yang ia punyai dan teman dalam menjalani hidup kepertapaan.

Praktis sejak itu, seluruh hidupnya hanya ia abdikan pada Allah SWT. Berdoa dan berdzikir adalah hiasan hidupnya. Saking sibuknya mengurus 'akhirat', ia lalai dengan urusan duniawi, termasuk membangun rumah tangga. Meski banyak pinangan datang, termasuk dari gubernur Basrah dan seorang suci-mistis terkenal, Hasan Basri, Rabiah tetap tak tertarik menyudahi masa lajangnya. Hal ini ia jalani hingga akhir hayatnya, pada tahun 801 M, dalam usia 88 tahun.

Dalam perjalanan kesufiannya, kesendirian, kesunyian, kesakitan, hingga penderitaan tampak lumer jadi satu; ritme heroik menuju cinta kepada Sang Ada (The Ultimate Being).

Tak heran jika ia 'merendahkan manusia' dan mengabdi pada dorongan untuk meraih kesempurnaan tertinggi. Ia jelajahi ranah mistik, yang jadi wilayah dalam dari agama, hingga mendapatkan eloknya cinta yang tidak dialami oleh kaum Muslim formal. Menjadi sufi dalam perjalanan Rabiah adalah ''berlalu dari sekadar Ada menjadi Benar-benar Ada''. Dan Sufisme Rabiah merupakan pilihan dari jebakan-jebakan ciptaan yang tak berguna.

Karena cintanya kepada Allah, Rabiah sampai tidak menyisakan sejengkal pun rasa cintanya untuk manusia. Sufyan Tsauri, seorang sufi yang hidup semasa dengannya, sempat terheran-heran dengan sikap Rabiah. Pasalnya, Sufyan pernah melihat bagaimana Rabiah menolak cinta seorang pangeran yang kaya raya demi cintanya kepada Allah. Dia tidak tergoda dengan kenikmatan duniawi, apalagi harta.

Itu sebabnya, Rabiah dipandang sebagai pelopor model tasawuf mahabbah (cinta mistik), yaitu penyerahan diri total kepada "Kekasih" (Allah). Hakikat tasawufnya adalah habbul illah (mencintai tuhan Allah SWT). Bagi Rabiah, mahabbah tak lain sebagai martabat untuk mencapai tingkat makrifat (ilmu yang dalam untuk mencari dan mencapai kebenaran dan hakikat) diperolehnya setelah melalui martabat-martabat kesufian, dari tingkat ibadah dan zuhud (tapa) ke tingkat ridha (rahmat) dan ihsan (kebajikan), sehingga cintanya betul-betul hanya untuk Allah SWT.

Di mata Rabiah, dorongan mahabbah kepada Allah SWT berasal dari dirinya, juga lantaran hak Allah untuk dipuja dan dicinta. Puncak pertemuan mahabbah antara hamba dan cinta kasih Allah-lah yang menjadi akhir keinginannya. Lantaran ini pula, puisi-puisi mahabbah kepada Allah yang banyak diciptakan sufi-sufi masyhur, seringkali dinisbahkan kepadanya.

Dengan pengembaraannya yang bagai tak bertepi dalam mengarungi dunia mistik itu, oleh banyak kalangan pengamal tarekat dan tasawuf Rabiah digolongkan sosok sufi yang fenomenal. Letak fenomenal seorang Rabiah, selain pada keyakinannya bahwa segala cinta hanya milik Allah, juga lantaran kerendah-hatian dirinya.

Soal kasih sayang Allah tadi misalnya, membuat dirinya tidak membenci setan. "Tidak! Kasih sayang Tuhan tidak mengenal kebencian terhadap setan," jawab Rabiah ketika suatu kali ia ditanya apakah dirinya benci kepada setan.

Bukti cinta Rabiah yang begitu besar melampaui batas-batas segalanya, di antaranya terlihat dalam syairnya yang masyhur berikut :

"Aku mencintai-Mu dengan dua cinta; cinta karena diriku, dan cinta karena diri-Mu. Cinta karena diriku adalah keadaanku yang senantiasa mengingat-Mu.

Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu yang mengungkapkan tabir, sehingga Engkau kulihat. Baik untuk ini, maupun untuk itu, pujianku bukanlah bagiku; bagi-Mu lah pujian untuk semuanya. Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi; beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu. Engkaulah harapanku, kebahagiaanku, dan kesenanganku; hatiku enggan mencintai selain Engkau."

Suatu hari, Sufyan Tsauri datang kepada Rabiah. Di depan dirinya, Sufyan mengangkat kedua tangannya, dan berdoa, "Tuhan Yang Mahakuasa, saya memohon harta duniawi dari-Mu." Mendengar doa itu, Rabiah kontak menangis. Ditanya mengapa dirinya menangis, Rabiah menjawab, "Harta yang sesungguhnya itu hanya didapat setelah menanggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat Anda hanya mencarinya di dunia saja."

Sementara itu, di saat lain, terbetik kabar seseorang mengirim uang 40 dinar kepada Rabiah. Ia menangis dan menengadahkan tangannya ke atas, "Engkau tahu, Ya Allah, aku tak pernah meminta harta dunia dari-Mu, sekalipun Kau-lah pencipta dunia ini. Lantas bagaimana aku menerima uang dari seseorang, sedangkan uang itu sesungguhnya bukan kepunyaannya?"

Tak hanya bagaimana kerendahan dan ketakberdayaan seorang hamba ia tunjukkan di hadapan Tuhannya, Rabiah juga senantiasa mengajarkan sifat dan sikap kerendah-hatian dan tawadhu kepada murid-muridnya.

Ia juga melarang para muridnya itu menunjukkan perbuatan baik mereka kepada siapa pun. Bahkan, Rabiah meminta murid-muridnya itu untuk menyembunyikan perbuatan baik mereka, sebagaimana menutupi-nutupi perbuatan jahat mereka.

Bagi Rabiah, segala penyakit dilihatnya sebagai cobaan yang datang dari Allah. Terhadap masalah ini, Rabiah selalu memikul setiap cobaan yang datang itu dengan penuh tabah dan kesabaran. Rasa sakit yang dahsyat sekalipun, tidak pernah mengganggunya dari perhatian dan pengabdiannya kepada Tuhannya. Bahkan, sering ia tidak menyadari ada bagian tubuhnya terluka sampai ia diberitahu orang lain.

Suatu saat misalnya, kepalanya terbentur batang pohon hingga berdarah. Seseorang yang melihat darah bercucuran itu, dengan hati-hati bertanya, "Apakah Anda tidak merasa sakit?"

"Aku dengan segala ragaku mengabdi kepada Allah SWT. Aku berhubungan erat dengan-Nya, aku disibukkan-Nya dengan hal-hal lain daripada hal-hal yang pada umumnya kalian rasakan," jawab Rabiah.

Sekalipun penuh liku, banyak kalangan mengakui kehidupan Rabiah tak sedikit menyisakan keajaiban, yakni keajaiban milik orang-orang suci. Rabiah misalnya, mendapatkan makanan dari tamu-tamunya dengan cara yang aneh-aneh. Disebutkan, ketika Rabiah menghadapi maut, ia minta kepada teman-temannya untuk meninggalkannya.

Rabiah lalu menyilakan para utusan Tuhan lewat. Ketika teman-teman Rabiah keluar itu, mereka mendengar Rabiah mengucapkan syahadat, lantas terdengar suara menjawab, "Sukma, tenanglah, kembalilah kepada Tuhanmu, legakan hatimu pada-Nya. Ini akan memberikan kepuasan kepada-Nya."

Dalam batas yang ada, Rabiah adalah 'hidup' dan senantiasa akan terus 'hidup' melalui pekerti ilmunya.


--------------------------------------------------------------

Perindu Cinta Allah



Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.

Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.

Bapa Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.

Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung harap kepada belas ihsan Tuhannya.

Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:

“Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!

“Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.

“Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.

“Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu.”

Rabi’ah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:

“Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.”

Setiap malam begitulah keadaan Rabi’ah. Apabila fajar menyinsing, Rabi’ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:

“Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”

Seperkara menarik tentang diri Rabi’ah ialah dia menolak lamaran untuk berkahwin dengan alasan:

“Perkawinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.”

Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.

Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:

“Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”

Antara syairnya yang masyhur berbunyi:

“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”

Rabi’ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman sufinya dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah diluahkannya:

“Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”

Kecintaan Rabi’ah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata.

“Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah meredainya.

selengkapnya...
revolusiana private blog © 2010